KEMITRAAN SINERGIS SEKOLAH: KUNCI MELAHIRKAN SEKOLAH UNGGULAN
Kata Kunci:
KEMITRAAN SINERGIS SEKOLAH: KUNCI MELAHIRKAN SEKOLAH UNGGULANAbstrak
Sepuluh bab disusun secara bertahap. Bab I menegaskan urgensi kemitraan, memperkenalkan konsep sekolah unggulan, dan menempatkan kemitraan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah. Bab II membangun fondasi teoretis dari empat sumber: teori modal sosial (Coleman, 1988; Putnam, 2000), teori pemangku kepentingan (Freeman, 1984; Donaldson & Preston, 1995), teori sistem terbuka (Katz & Kahn, 1978), dan model sfera pengaruh yang saling tumpang tindih (Epstein, 2001), yang disintesiskan menjadi model kemitraan sinergis berdimensi struktural, relasional, operasional, dan adaptif. Bab III memetakan ekosistem pemangku kepentingan, menganalisis dinamika kekuasaan melalui matriks kekuasaan-kepentingan (Mendelow, 1991) dan model salience (Mitchell et al., 1997), serta menegaskan prinsip kesetaraan, kepercayaan, resiprositas, dan keberlanjutan.
Bab IV sampai VII membahas empat kelompok mitra utama. Pada kemitraan dengan keluarga, buku ini menelaah pengaruh keterlibatan orang tua terhadap capaian belajar, ragam bentuknya dari parenting dan komunikasi hingga pengambilan keputusan, peran komite sekolah sebagai wadah formal (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016), serta hambatan sosioekonomi dan budaya yang dipengaruhi, antara lain, oleh konstruksi peran dan keyakinan diri orang tua (Hoover-Dempsey & Sandler, 2005). Pada kemitraan dengan masyarakat, dibahas sekolah sebagai bagian integral komunitas, pendidikan berbasis komunitas, pemanfaatan sumber daya lokal, kolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil, dan studi praktik baik. Pada kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, dikaji prinsip link and match, magang, kelas industri, beasiswa, program CSR, kekhasan sekolah menengah kejuruan, tata kelola perjanjian kerja sama, dan penyelarasan kompetensi. Pada kemitraan dengan pemerintah, diuraikan kerangka regulasi (Presiden Republik Indonesia, 2003), peran dinas pendidikan dan pemerintah daerah, skema bantuan dan insentif, akuntabilitas publik, serta sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
Bab VIII mengangkat kemitraan di era digital: platform kolaborasi sekolah, orang tua, dan masyarakat; kerja sama dengan penyedia teknologi pendidikan dan perguruan tinggi; literasi digital sebagai prasyarat; serta risiko dan etika kemitraan berbasis teknologi. Bab IX beralih ke aspek manajerial: perencanaan strategis dan pemetaan mitra, kepemimpinan kepala sekolah dalam menggerakkan kemitraan (Bass, 1985), struktur dan koordinasi, pengelolaan konflik kepentingan (Thomas & Kilmann, 1974), dan pembangunan budaya kolaboratif. Bab X menutup dengan evaluasi efektivitas dan evaluasi partisipatif (Stufflebeam, 1971), faktor keberlanjutan, rekomendasi kebijakan, dan agenda penelitian lanjutan.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 STIPAS TAHASAK DANUM PAMBELUM KEUSKUPAN PALANGKARAYA

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
